Mengintip Proses Pembangunan Jalan Tol Semarang – Solo dan Waduk Jatigede

Proyek Tol Semarang-Solo ini merupakan salah satu program pemerintah untuk menghubungkan seluruh kota-kota besar di Pulau Jawa dengan jalan tol. Proyeknya sendiri dinamakan Tol Trans-Jawa. Seperti terlihat pada gambar di samping ini, masih terlihat beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja untuk memasang rambu dan marka jalan. Semoga dengan adanya berbagai pembangunan mega proyek, ke depannya infrastruktur Indonesia gak akan tertinggal seperti sekarang ini dari negara lainnya 🙂

Sebelum meninjau ke lokasi proyek, kami menginap di bus, klo gak salah waktu tiba di Semarang sekitar pukul 03.30 pagi. Alhasil kami nginap di parkiran restoran Super Penyet di Semarang. Badan pegel-pegel klo tidur di bus 😦

super-penyet-semarang

Uniknya, kami sarapan pagi di sini tetapi restorannya belum buka, hehehe :-). Tapi sebelumnya sudah dibooking sih. Hmm, selama di Semarang menunya manis-manis semua, agak beda sama lidah saya, ada tempe bacem yang manis, ada nangka kaya gudeg, heheh :lol:, pokoknya serba manis, soalnya saya suka yang pedes-pedes, alhasil yang saya makan cuma ayamnya doang deh :P. Suasana restoran penyet di pagi hari ini.

Ruas tol ini merupakan bagian dari beberapa tahap pembangunan tol Semarang-Solo yaitu :

– Sesi I yaitu Semarang – Ungaran sepanjang 10,9 km
– Sesi II yaitu Ungaran – Bawen sepanjang 11,3 km
– Sesi III yaitu Bawen – Salatiga sepanjang 17,04 km
– Sesi IV yaitu Salatiga – Boyolali sepanjang 22, 85 km
– Sesi V yaitu Boyolali – Kartasutra sepanjang 13,57 km

Ruas Tembalang-Gedawung merupakan bagian dari 3 paket pekerjaan jalan tol yang menghubungkan Semarang-Bawean. Jalan tol ini menggunakan konstruksi perkerasan rigid yang terdiri dari beberapa pekerjaan yaitu :

– Pekerjaan Tanah
– Pekerjaan Perkerasan Jalan
– Perkeraan Rigid untuk jalan utama dan ramp
– Perkerasan Flexible untuk jalan lokal
– Pekerjaan Struktur

Jembatan Utama Balance Cantilever yang diterapkan di Jembatan Banyumanik I, Banyumanik II, dan Jembatan Gedawang.
Simpang Susun Tembalang
Pelebaran Jembatan Ngesrep
Overpass Jalan Mulawarman
Jembatan Penyebrangan
Underpass Box Traffic dan Box Drainase

– Pekerjaan Drainase
– Pekerjaan PJU, Rambu, Marka Jalan, dan lain-lain.
– Pekerjaan Plaza Tol, Gerbang Tol, dan Kantor Tol.
– Pekerjaan Landscape.

Jalan tol Semarang-Bawen dibangun sebagai prasarana transportasi yang menghubungkan antara kawasan utara Jawa Tengah dan kawasan selatan Jawa Tengah dan DIY. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam studi kelayakan dalam pembangunan jalan tol Semarang-Bawen ini, diantaranya :

Kesenjangan ekonomi antara wilayah utara Jawa Tengah (yang terlihat lebih maju secara ekonomi dan infrastruktur, misalnya jalan tol dan pelabuhan, yang lebih baik) dengan wilayah selatan Jawa Tengah.
Sudah padatnya jalan arteri maupun kolektor karena sudah ramainya jumlah kendaraan yang ada. Terdapat derajat kejenuhan (perbandingan antara volume lalu lintas dan kapasitas jalan) yang lebih dari 0,8.
Untuk melengkapi jaringan transportasi Jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan kota – kota di Pulau Jawa, yang harus didukung oleh pembangunan transportasu utara – selatan Jawa Tengah.
Sebagai jalur alternatif dari Semarang ke Surabaya, yang sebelumnya melewati jalur utara yang melewati jalur Pantura, dan kini bisa melewati jalur selatan melalui Solo dan Malang.

Perancangan jalan tol ini dibuat oleh konsultan PT Virama Karya pada Desember 2004. Untuk pembangunan dan pengelolaannya diserahkan pada PT Trans Marga Jateng, yang merupakan gabungan antara PT. Jasa Marga Tbk dan PT. Sarana Pembangunan Jawa Tengah. Pembangunan Jalan Tol Semarang – Bawen ini membutuhkan biaya investasi sebesar 6, 1 triliyun rupiah, biaya konstruksi 2,4 triliyun rupiah, dan biaya pengadaan tanah 800 milyar rupiah.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Jalan tol ini merupakan jalan 4 lajur 2 arah yang terpisahkan oleh suatu median di tengahnya. Terdapat 3 jembatan yang membentang pada ruas jalan tol ini, diantaranya : Jembatan Banyumanik I dengan panjang 170 m, Jembatan Banyumanik II dengan panjang 384 m, dan Jembatan Gedawang dengan panjang 470 m. Berikut ini merupakan karakteristik jembatan-jembatan tersebut :

Jembatan Banyumanik 1
Panjang total jembatan = 170 m
Jumlah bentang = 3 bentang
Panjang bentang = 28,167 m – 71 m – 71 m
Alinyemen horizontal = lengkung/skew
Tipe dek = cast in situ – prestress concrete box
Lebar total dek = 2 x 12,6 m
Tinggi dek = 6,5 m – 3 m
Metode konstruksi dek = balance cantilever

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????
Jembatan Banyumanik 2
Panjang total jembatan = 384 m
Jumlah bentang = 6 bentang
Alinyenmen bentang = kemiringan – 0,7 %
Alinyemen horozontal = lurus
Tipe dek = cast in situ – prestress concrete box
Lebar total dek = 2 x 12,6 m
Tinggi dek = 5 m- 3 m
Metode konstruksi = balance cantilever

???????????????????????????????

???????????????????????????????
???????????????????????????????

Jembatan Gedawang
Panjang total jembatan = 470 m
Jumlah bentang = 7 bentang
Alinyemen vertikal = kemiringan antara – 0,7 % sd 3,446 %
Alinyemen horizontal = lurus
Tipe dek = cast in situ – prestress concrete box
Lebar total dek = 2 x 12,6 m
Tinggi dek = 5 m – 3 m
Metode konstruksi dek = balance cantilever

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s