Akankah Jembatan Selat Sunda Dibangun??

Karet Tahan Gempa Untuk Jembatan

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan, meski terjadi pergantian presiden, proyek pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) tetap akan dibangun. Pasalnya, megaproyek JSS sudah tertuang dalam peraturan presiden (perpres). “Tetap jalan dong, kan ada perpres-nya, sudah jalan. Sudah ada investasi masa tidak dijalankan,” ujar Hatta di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian.

 

Hatta menjelaskan, jika memang ada perubahan program kerja dalam pembangunan JSS, itu adalah hak dari presiden baru, yang menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono. “Nanti kalau ada perubahan-perubahan revisi perpres, itu hak dari presiden baru,” ungkap Hatta. Hatta menambahkan, jika proyek pembangunan JSS gagal dijalankan, hal itu sama saja membuang-buang anggaran negara. Hal tersebut juga akan memengaruhi investasi negara yang sudah digelontorkan sebanyak Rp 1,5 triliun hanya untuk studi kelayakan. “Tapi, ini harus tetap berjalan. Kalau sampai pemerintah baru membatalkan, itu akan mengganggu investasi,” kata Hatta. Sebelumnya, diberitakan tribunnews.com, anggaran JSS sebesar Rp 200 triliun sangat besar sehingga pemerintah tidak ingin mengeluarkan APBN. Saat ini, jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera itu masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).

Kementerian BUMN menyiapkan lima perusahaan konstruksi pelat merah untuk bisa terlibat dalam pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS).
Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, lima BUMN yang dimaksud adalah PT Adhi Karya Tbk, PT Hutama Karya, PT Pembangunan Perumahan Tbk, PT Waskita Karya Tbk, dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

“Ya kita bikin konsorsium bersama. Saya lagi bertanya-tanya, siapa yang berpengalaman tapi semuanya mengaku berpengalaman. Ada lima yang kira-kira menjadi BUMN gajahnya,” katanya.
Meski demikian, Dahlan menolak untuk menjelaskan terkait pembagian saham proyek konsorsium tersebut. “Kalau soal itu masih terlalu jauh,” tambahnya.
Pekan ini seharusnya pemerintah akan memutuskan dua opsi pembangunan JSS, yaitu apakah studi kelayakan memakai dana APBN atau tidak, serta studi kelayakan akan dibangun oleh BUMN dan pemrakarsa.

Feri dari Pelabuhan Merak, Banten, mengangkut mobil memasuki Pelabuhan Bakauheni, Lampung,
Khusus untuk keterlibatan perusahaan milik pemerintah dalam proyek tersebut, Menteri BUMN yang berhak menentukan perusahaan mana yang akan ikut serta.
Hingga saat ini, pemerintah telah melakukan pra-studi kelayakan yang meliputi studi gelombang, kegempaan, angin, tsunami, hingga air laut. Nantinya kajian tim ini akan disampaikan ke tim studi kelayakan selanjutnya.
Namun, bila tetap ingin memakai dana dari APBN, pemerintah akan melihat kondisi keuangan negara. Sebab, Menteri Keuangan Chatib Basri tidak setuju jika pembangunan JSS memakai dana dari APBN.

“Kalau keuangan mau diputuskan APBN, ada tidak dananya. Dua opsi ini masih terbuka,” kata Menteri Perekonomian Hatta Rajasa.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat memberi bocoran soal waktu pembangunan JSS. Pembangunan tersebut akan dimulai setidaknya sebelum masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berakhir.

“Sebelum berakhirnya pemerintahan 2014, kawasan JSS sudah mulai groundbreaking atau dibangun karena itu janji kampanye Presiden SBY,” kata Hidayat saat ditemui di Kantor Kementerian Perekonomian Jakarta.
Awalnya, pembangunan kawasan JSS yang diperkirakan akan menelan dana sekitar Rp 200 triliun ini akan memakai dana dari APBN. Namun, Menteri Keuangan Chatib Basri akhirnya menyetujui bahwa pembangunannya merupakan konsorsium dari pemrakarsa dan BUMN.

“Jadi pembangunannya tidak pakai dana APBN. Proyek ini kan kalau menggunakan dana APBN bisa Rp 200 triliun, kan tidak mungkin. Nanti harga BBM pasti dinaikkan lagi (untuk membiayai proyek tersebut),” tambahnya.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menegaskan, meski terjadi pergantian presiden, proyek pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) tetap akan dibangun. Pasalnya, megaproyek JSS sudah tertuang dalam peraturan presiden (perpres). “Tetap jalan dong, kan ada perpres-nya, sudah jalan. Sudah ada investasi masa tidak dijalankan,” ujar Hatta di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian.

Hatta menjelaskan, jika memang ada perubahan program kerja dalam pembangunan JSS, itu adalah hak dari presiden baru, yang menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono. “Nanti kalau ada perubahan-perubahan revisi perpres, itu hak dari presiden baru,” ungkap Hatta. Hatta menambahkan, jika proyek pembangunan JSS gagal dijalankan, hal itu sama saja membuang-buang anggaran negara. Hal tersebut juga akan memengaruhi investasi negara yang sudah digelontorkan sebanyak Rp 1,5 triliun hanya untuk studi kelayakan. “Tapi, ini harus tetap berjalan. Kalau sampai pemerintah baru membatalkan, itu akan mengganggu investasi,” kata Hatta. Sebelumnya, diberitakan tribunnews.com, anggaran JSS sebesar Rp 200 triliun sangat besar sehingga pemerintah tidak ingin mengeluarkan APBN. Saat ini, jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera itu masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).

Kementerian BUMN menyiapkan lima perusahaan konstruksi pelat merah untuk bisa terlibat dalam pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS).

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, lima BUMN yang dimaksud adalah

PT Adhi Karya Tbk,PT Hutama Karya, PT Pembangunan Perumahan Tbk, PT Waskita Karya Tbk, dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).
desain-jembatan-selat-sunda
“Ya kita bikin konsorsium bersama. Saya lagi bertanya-tanya, siapa yang berpengalaman tapi semuanya mengaku berpengalaman. Ada lima yang kira-kira menjadi BUMN gajahnya,” katanya.
Meski demikian, Dahlan menolak untuk menjelaskan terkait pembagian saham proyek konsorsium tersebut. “Kalau soal itu masih terlalu jauh,” tambahnya.
Pekan ini seharusnya pemerintah akan memutuskan dua opsi pembangunan JSS, yaitu apakah studi kelayakan memakai dana APBN atau tidak, serta studi kelayakan akan dibangun oleh BUMN dan pemrakarsa.
Khusus untuk keterlibatan perusahaan milik pemerintah dalam proyek tersebut, Menteri BUMN yang berhak menentukan perusahaan mana yang akan ikut serta.
Hingga saat ini, pemerintah telah melakukan pra-studi kelayakan yang meliputi studi gelombang, kegempaan, angin, tsunami, hingga air laut. Nantinya kajian tim ini akan disampaikan ke tim studi kelayakan selanjutnya.
Namun, bila tetap ingin memakai dana dari APBN, pemerintah akan melihat kondisi keuangan negara. Sebab, Menteri Keuangan Chatib Basri tidak setuju jika pembangunan JSS memakai dana dari APBN.

“Kalau keuangan mau diputuskan APBN, ada tidak dananya. Dua opsi ini masih terbuka,” kata Menteri Perekonomian Hatta Rajasa.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat memberi bocoran soal waktu pembangunan JSS. Pembangunan tersebut akan dimulai setidaknya sebelum masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berakhir.

“Sebelum berakhirnya pemerintahan 2014, kawasan JSS sudah mulai groundbreaking atau dibangun karena itu janji kampanye Presiden SBY,” kata Hidayat saat ditemui di Kantor Kementerian Perekonomian Jakarta..

Awalnya, pembangunan kawasan JSS yang diperkirakan akan menelan dana sekitar Rp 200 triliun ini akan memakai dana dari APBN. Namun, Menteri Keuangan Chatib Basri akhirnya menyetujui bahwa pembangunannya merupakan konsorsium dari pemrakarsa dan BUMN.

“Jadi pembangunannya tidak pakai dana APBN. Proyek ini kan kalau menggunakan dana APBN bisa Rp 200 triliun, kan tidak mungkin. Nanti harga BBM pasti dinaikkan lagi (untuk membiayai proyek tersebut),” tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto menegaskan, pemancangan batu pertama proyek tersebut akan tetap dilakukan pada 2014. Namun sampai saat ini belum ada kejelasan siapa kontraktor atau konsorsium yang akan ditunjuk pemerintah atau dilepas melalui tender.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s